Info Tarakan – Angka stunting di Kota Tarakan mengalami peningkatan menjadi 4,4 persen, berdasarkan data terbaru yang dirilis pemerintah daerah. Meski masih tergolong lebih rendah dibanding rata-rata nasional, kenaikan ini menjadi perhatian serius karena dipicu oleh faktor-faktor yang sebenarnya dapat dicegah, terutama paparan rokok dalam rumah tangga dan buruknya sanitasi lingkungan.
Pemerintah Kota Tarakan menegaskan bahwa tren kenaikan ini harus segera ditangani secara komprehensif agar tidak berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Stunting Masih Jadi Ancaman Kesehatan Anak
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Dampaknya tidak hanya pada tinggi badan anak, tetapi juga pada perkembangan kognitif, kesehatan jangka panjang, hingga produktivitas saat dewasa.
Kepala dinas terkait di Tarakan menyebutkan bahwa peningkatan angka stunting meskipun relatif kecil tetap menjadi sinyal peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Kita tidak boleh lengah. Kenaikan menjadi 4,4 persen harus menjadi momentum untuk memperkuat intervensi,” ujarnya.
Paparan Rokok dalam Rumah Tangga Jadi Faktor Dominan
Salah satu faktor utama penyumbang stunting di Tarakan adalah tingginya paparan asap rokok di lingkungan keluarga. Anak-anak yang tinggal serumah dengan perokok aktif berisiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan akibat menurunnya nafsu makan, gangguan pernapasan, serta infeksi berulang.
Dinas Kesehatan Tarakan mencatat masih banyak keluarga yang belum menyadari dampak rokok terhadap tumbuh kembang anak, terutama bagi balita dan ibu hamil.
“Kebiasaan merokok di dalam rumah masih cukup tinggi dan ini berkontribusi langsung terhadap kasus stunting,” jelas seorang pejabat kesehatan.

Baca juga: Dua Pelaku Kasus Pengeroyokan Ketua RT di Tarakan Dibekuk, Begini Kronologis Kejadiannya
Sanitasi Buruk dan Akses Air Bersih
Selain rokok, sanitasi yang tidak layak juga menjadi penyebab dominan meningkatnya stunting. Akses air bersih yang terbatas, penggunaan jamban tidak sehat, serta lingkungan pemukiman yang kurang higienis memicu penyakit infeksi seperti diare dan cacingan, yang berdampak pada penyerapan gizi anak.
Wilayah padat penduduk dan kawasan pesisir disebut menjadi area yang memerlukan perhatian khusus dalam perbaikan sanitasi dasar.
“Tanpa sanitasi yang baik, asupan gizi yang cukup pun tidak akan optimal,” ungkap petugas lapangan kesehatan.
Upaya Pemerintah Tekan Angka Stunting
Pemerintah Kota Tarakan terus menggencarkan berbagai program pencegahan stunting, mulai dari edukasi gizi kepada ibu hamil, pemberian makanan tambahan bagi balita, hingga penguatan layanan posyandu dan puskesmas.
Selain itu, kampanye rumah bebas asap rokok serta program peningkatan sanitasi berbasis masyarakat menjadi fokus utama dalam upaya penurunan angka stunting ke depan.
“Kami mendorong kolaborasi lintas sektor, tidak hanya kesehatan, tetapi juga lingkungan, pendidikan, dan peran aktif masyarakat,” kata pejabat Pemkot Tarakan.
Peran Keluarga Jadi Kunci
Pemerintah menekankan bahwa keberhasilan penanganan stunting sangat bergantung pada peran keluarga. Pola asuh yang baik, pemenuhan gizi seimbang, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghentikan kebiasaan merokok di sekitar anak menjadi langkah krusial.
Orang tua juga diimbau untuk rutin memeriksakan tumbuh kembang anak ke fasilitas kesehatan agar stunting dapat dideteksi dan ditangani sejak dini.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski menghadapi berbagai tantangan, Pemerintah Kota Tarakan optimistis angka stunting dapat kembali ditekan melalui intervensi yang terarah dan berkelanjutan. Target penurunan stunting tetap menjadi prioritas dalam agenda pembangunan kesehatan daerah.
“Kami berharap semua pihak ikut berperan, karena stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi menyangkut masa depan generasi Tarakan,” tutup pernyataan resmi pemerintah.















